is.projected

3.3. Referensi Koordinat dan Transformasi Obyek Spasial

Tujuan: Mengetahui referensi koordinat dari obyek spasial dan bagaimana mendefinisikan informasi tersebut pada obyek spasial kita berdasarkan CRS (Coordinate Reference Systems). Transformasi proyeksi juga sangat penting diketahui karena proses ini harus dilakukan untuk menyesuaikan dengan obyek spasial lain agar bisa dilakukan pengeplotan dan analisis bersama dengan benar.

Syarat:

  • Mempunyai data latihan yang telah disediakan. Jika belum maka dapat diunduh dengan melihat prosesnya pada Project_02 (sila klik disini).
  • Paket GISTools telah terinstal pada sistem. Jika belum maka silakan lihat posting pada Persiapan (sila klik disini).

Salah satu informasi terpenting pada data spasial adalah sistem proyeksi yang digunakannya. Pada data yang digunakan disini (Kabupaten Karawang) telah diketahui bahwa refernsi koordinat pada proyeksi UTM Zona 48 South dengan datum WGS 84. Informasi ini dapat dilihat juga pada file shapefile dengan ekstensi .PRJ. Tetapi sistem pada R tidak mengenalinya secara langsung. Untuk itu kita perlu mendefinisikan proyeksi tersebut dan menginformasikan pada sistem melalui fungsi khusus.

Script kita mulai dengan perintah-perintah standar dalam membersihkan ruang kerja di sistem dan menentukan folder kerja:


# === MEMULAI R
rm(list=ls()) # Menghapus semua dataset dan variabel
graphics.off() # Menutup semua grafik

# Menentukan folder kerja
setwd("D:/_randmm/project03")
getwd() # Periksa direktori kerja
# ===

Unggah paket GISTools dan data batas kecamatan Kabupaten Karawang (karawang_admkec) kedalam sistem.


# Unggah paket GISTools
library(GISTools)

# Unggah data kedalam spatial object
KW_kec <-readShapePoly("karawang_admkec")

Untuk mengetahui apakah data kita telah dikenal sistem proyeksinya oleh sistem maka dapat kita lakukan dengan cara yaitu dengan fungsi is.projected().


# Perintah pemeriksa informasi proyeksi
is.projected(KW_kec)

Dari fungsi is.projected() kita bisa mengetahui apakah obyek spasial ini telah memiliki referensi koordinat, jika belum maka akan ditandai dengan NA. Jika telah terdefinisi maka fungsi tersebut mengembalikan TRUE.

Langkah berikutnya adalah mendefinisikan referensi koordinat (berupa proyeksi yang digunakan) dengan memberikan nilai pada suatu variabel yang berisi kode referensi koordinat, misalnya adalah untuk WGS84 UTM Zone 48 S pada datum WGS 84. Untuk mengetahui kode EPSG (European Petroleum Survey Group, sekarang dikenal sebagai Geomatics Committee of the International Association of Oil and Gas Producers atau OGP) kita dapat gunakan, antara lain, situs SpatialReference.org.

Selanjutnya kita definisikan referensi koordinat menggunakan fungsi proj4string() untuk data kita:


# Buat obyek untuk mendefinisikan referensi koordinat
crs.utm48 <- CRS("+init=EPSG:32748") # kode EPSG untuk WGS 84 UTM 48S

# Definisikan sesuai referensi koordinat
proj4string(KW_kec) <- crs.utm48 # define projection system of our data

Untuk mengetahui hasilnya maka dapat kita periksa lagi menggunakan fungsi is.projected() seperti yang telah dituliskan sebelumnya.

.

Transformasi Proyeksi

Agar dapat memroses atau menganalisis beberapa data spasial maka kita harus samakan dahulu sistem koordinat yang digunakan. Untuk itu kita gunakan fungsi spTransform() dengan parameter berupa nama obyek spasial dan CRS tujuan/baru.

Sebagai contoh: data kita adalah dalam UTM 48S akan diubah menjadi LatLon maka script yang dapat kita pakai adalah


# Transformasi proyeksi UTM 48S ke Geo Lat/Lon
KW_kec.geo <- spTransform(KW_kec, CRS("+proj=longlat +datum=WGS84"))

Simpan file script ini dengan nama Project_03_3.R.

Selengkapnya dapat dilihat pada laman berikut ini Project_03_3.html.


Referensi fungsi: